BUDGET PENJUALAN

BUDGET PENJUALAN

  1. A.   Pengertian Budget Penjualan

Glenn A. Welsch mendefenisikan anggaran sebagai berikut:

Pro fit planning and control may be broadly as de fined as sistematic and formalized  approach  for accomplishing the planning, coordinating and control responsibility of management”.

Dari pengertian tersebut, anggaran dikaitkan dengan fungsi-fungsi dasar manajemen yang meliputi fungsi perencanaan, koordinasi dan pengawasan. Jadi bila anggaran dihubungkan fungsi dasar manajemen maka anggaran meliputi fungsi perencanaan, mengarahkan, mengorganisasi dan mengawasi setiap satuan dan bidang-bidang organisasional didalam badan usaha.

Marwan (1991) menyatakan, “Penjualan adalah suatu usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pemebeli, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba”.

Maka dari itu yang dimaksud dengan Budget penjual (Sales Budget) ialah Budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahan selama periode yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.

Dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa budget penjualan hanyalah merupakan salah satu bagian saja dari seluruh rencana perusahaan di bidang pemasaran (sales planning). Beberapa rencana perusahaan di bidang pemasaran yang lain misalnya:

  1. Rencana tentang sasaran atau tujuan pemasaran selama periode yang akan datang, seperti misalnya mencapai laba maksimal, penetrasi pasar ( market penetration ), pengembangan pasar (market develovment), mempertahankan market share, memperkenalkan produk baru, dan sebagainya.
  2. Rencana tentang organisasi penjualan yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
  3. Rencana tentang saluran disrtibusi yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
  4. Rencana tentang biaya distribusi selama periode yang akan datang.
  5. Rencana tentang media-media promosi yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
  6. Rencana tentang biaya promosi selama periode yang akan datang.
  7. Rencana tentang pengembangan produk selama periode yang akan datang, dan sebagainya.
  8. Kegunaan Anggaran Penjualan

Secara umum, semua budget termasuk budget penjualan mempunyai tiga kegunaan pokok yaitu sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja dan sebagai alat pengawasan kerja yang menbantu menajeman dalan memimpin jalannya perusahaan. Sedangkan secara khusus, budget penjualan berguna sebagai dasar penyusunan semua budget-budget dalam perusahaan, sebab bagi perusahaan yang menghadapi pasar bersaing, budget penjualan harus disusun paling awal daripada semua budget yang lain yang ada dalam perusahaan.

  1. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Penjualan

1. Faktor Intern

Yang termasuk dalam faktor intern adalah data, informasi, dan pengalaman yang terdapat didalam perusahaan sendiri. Faktor- faktor tersebut antara lain berupa:

  1. Penjualan tahun-tahun yang lalu meliputi baik kualitas, kuantitas, harga, waktu maupun tempat penjualannya.
  2. Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah penjualan, seperti tentang pemilihan saluran distribusi, pemilihan media-media promosi, cara penetapan harga jual dan sebagainya.
  3. Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
  4. Tenaga kerja yang tersedia, baik jumlahnya maupun keterampilan dan keahliannya, serta kemungkinan pengembangannya diwaktu yang akan datang.
  5. Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan, serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.

2. Faktor Ekstern

Yang termasuk dalam faktor ekstern adalah data, informasi, dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi di sana mempunyai pengaruh terhadap budget penjualan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa:

  1. Keadaan persaingan dipasar.
  2. Posisi perusahaan dalam persaingan.
  3. Tingkat pertumbuhan penduduk.
  4.  Tingkat penghasilan masyarakat.
  5. Elastisitas permintaan terhadap harga barang yang dihasilkan perusahaan, yang terutama akan mempengaruhi dalam merencanakan harga jual dalam budget penjualan yang akan disusun.
  6. Agama, adat- istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat.
  7. Berbagai kebijakan pemerintah baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan
  8.  Keadaan perekonomian nasional maupun internasional.
  9. Kemajuan teknologi, barang-barang substitusi, selera konsumen dan kemungkinan perubahannya, dan sebagainya.
  10. Bentuk Anggaran Penjualan

Tidak ada suatu bentuk standar yang harus dipergunakan oleh perusahaan jika akan menyusun budget penjualan. Ini berarti tiap-tiap perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya. Namun harus mencakup rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualan.

  1. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyusun Anggaran
    1. Rincian jumlah dan jenis produk perusahaan.

Anggaran penjualan hendaknya menyebutkan dengan jelas jenis produk yang akan dijual serta jumlah unit dari masing-masing produk tersebut. Walaupun nantinya seluruh penjualan akan dijumlahkan, namun untuk keperluan pengawasan perlu masing-masing jenis peroduk yang dijual tersebut diketahui jumlahnya.

  1. Rincian daerah pemasaran.

Dewasa ini merupakan hal yang umum apabila suatu perusahaan mempunyai daerah pemasaran yang cukup luas. Bagi perusahaan-perusahaan seperti ini di dalam penyusunan anggaran penjualannya perlu untuk memperlihatkan kemana saja produk perusahaan tersebut akan dijual. Hal ini sangat membantu para pelaksana penjualan serta memudahkan pengawasan penjualan. Pada umumnya daerah pemasaran yang luas ini akan dibagi menjadi beberapa daerah pemasaran dengan dasar-dasar tertentu yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Dasar yang paling umum digunakan adalah letak geografis dan tidak jarang pula yang mempergunakan pembagian atas dasar kota tujuan atau kelompok kota tujuan pemasaran.

  1. Diskriminasi harga

Didalam penentuan harga jual produk, terdapat beberapa perusahaan yang menetapkan harga yang sama bagi penjualan produknya untuk seluruh daerah pemasaran yang ada. Namun demikian tidak disangkal pula bahwa terdapat beberapa perusahaan yang menerapkan kebijakan diskriminasi harga untuk daerah yang berbeda. Untuk perusahaan-perusahaan semacam ini harga yang dapat ditentukan untuk masing-masing daerah pemasaran tersebut harus jelas sehingga dapat diketahui dan diawasi pelakksanaannya dengan mudah. Jika harga untuk masing-masing daerah pemasaran ini tidak dijelaskan maka penjualan produk perusahaan tersebut akan mengalami beberapa kesulitan didalam pemantauannya, karena terdapat beberapa harga yang berbeda antara satu daerah dengan daerah pemasaran yang lainnya.

  1. Potongan harga

Didalam pelaksanaan penjualan produk perusahaan sangat sering dijumpai adanya potongan harga. Bagi pembeli atau distributor yang membeli dalam jumlah tertentu, atau pembayarannya dengan jangka waktu tertentu seringkali mendapatkan perlakuan harga yang berbeda. Untuk memudahkan pengawasan penjualan produk perusahaan ini, maka didalam anggaran yang disusun seharusnya disebutkan seberapa banyak potongan yang akan diberikan oleh perusahaan sehubungan dengan pembelian dengan persyaratan-persyaratan khusus tersebut. Pengawasan pemberian potongan pembelian ini akan lebih mudah apabila perusahaan telah mempersiapkan didalam anggaran yang ddisusun tersebut. Bagi perusahaan-perusahaan dimana potongan pembelian ini merupakan hal yang rutin, misalnya dihubungkan dengan waktu pembayaran, maka lebih baik bila anggaran penjualan yang disusun tersebut dilengkapi dengan anggaran potongan pembelian. Pelaksanaan penyusunan anggaran ini dapat disusun sendiri atau berdiri sendiri, namun tidak jarang pula yang langsung digabungkan dengan anggaran penjualan yang ada.

  1. Pada umumnya anggaran penjualan ini disusun untuk satu periode atau satu tahun.

Namun untuk keperluan perencanaan, koordinasi dan pengawasan dalam perusahaan tersebut selayaknya anggaran penjualan yang disusun ini juga dilengkapi dengan rincian penjualan bulanan. Bahkan beberapa perusahaan yang mendasarkan penyusunan anggaran penjualan dari pada pengecer, agen dan distributor, tidak jarang disusun perencanaan penjualan produk perusahaan perbulan dahulu baru kemudian dijadikan perencanaan tahunan dengan jalan menjumlahkan seluruh penjualan bulanan yang ada. Namun bagi perusahaan yang menyusun peramalan penjualan tahunan, pada umumnya pemecahan perencanaan penjualan bulanan ini akan dilaksanakan atas dasar pola penjualan bulanan yang telah ada dari beberapa periode yang telah lalu. Atas dasar pola ini ditentukan berapa besarnya jumlah penjualan perbulan pada periode yang bersangkutan.

Dengan mempertimbangkan kepada beberapa hal tersebut diatas, maka anggaran penjualan produk perusahaan dapat disusun. Semakin jelas anggaran penjualan dalam perusahaan tersebut disajikan, semakin mudah pula manajemen perusahaan yang bersangkutan melaksanakan koordinasi dan pengawasan kegiatan penjualan perusahaan ini.

F.  Tujuan dan Fungsi Anggaran Penjualan

Tujuan utama dari anggaran penjualan adalah:

1. Mengurangi ketidakpastian dimasa depan.

2. Memasukkan pertimbangan /keputusan manajemen dalam proses perencanaan.

3. Memberikan informasi dalam profit planing control.

4. Untuk mempermudah pengendalian penjualan.

Fungsi dari anggaran penjualan dalam suatu perusahaan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Anggaran penjualan adalah dasar perencanaan atas kegiatan perusahaan pada umumnya.

2. Anggaran penjualan sebagai alat koordinasi dan mengarahkan setiap pelaksanaan divisi pemasaran.

3. Anggaran penjualan sebagai alat pengorganisasian.

4. Anggaran penjualan sebagai alat pengawasan bagi manajemen.

G.  Cara- Cara Melakukan Penaksiran Penjualan

Untuk menyusun budget penjualan diperlukan penaksiran-penaksiran (forecasting) khususnya penaksiran tentang jumlah produk yang diperkirakan akan mampu dijual beserta harga jualnya, yang masing-masing dikaitkan dengan jenis produk yang akan dijual, dengan waktu serta tempat penjualannya.

Menurut sifatnya cara untuk melakukan penaksiran-penaksiran tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Penaksiran yang bersifat kualitatif

Merupakan cara penaksiran yang menitik beratkan pada pendapat seseorang. Cara penaksiran ini mempunyai kelemahan yang menonjol, yaitu bahwa pendapat seseorang seringkali banyak diwarnai oleh hal-hal yang bersifat subyektif dari pada bersifat obyektif. Dengan demikian ketepatan hasil taksirannya menjadi diragukan. Adapun beberapa cara penaksiran yang bersifat kualitatif ini antara lain:

a. Pendapat pimpinan bagian pemasaran

b. Pendapat para petugas penjualan.

c. Pendapat lembaga-lembaga penyalur.

d. Pendapat konsumen.

e. Pendapat para ahli yang dipandang memahami ( konsultan).

2. Penaksiran yang bersifat kuantitatif

Ialah cara penaksiran yang menitik beratkan pada perhitungan-perhitungan angka dengan menggunakan berbagai metode statistika. Cara penaksiran ini juga mempunyai kelemahan yaitu adanya hal-hal yang tidak dapat diukur secara kuantitatif misalnya selera konsumen, kebiasaan konsumen, tingkat pendidikan, dan cara berfikir masyarakat, struktur masyarakat dan sebagainya. Adapun beberapa cara penaksiran yang bersifat kuantitatif antara lain:

  1. Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari suatu variabel saja, yaitu variable yang akan ditaksir itu sendiri. Misalnya dengan metode trend bebas, trend setengah rata-rata, trand moment, trend least-square, dan kuadrik.
  2.  Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari variabel yang akan ditaksir serta hubungannya dengan data historis dari variabel lain yang diduga mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan variabel yang akan di taksir tersebut. Misalnya dengan metode regresi tunggal dan regresi berganda.
  3. Cara penaksiran yang menggunakan metode-metode statistik yang diterapkan pada berbagai analisa khusus. Misalnya analisa industri, analisa jenis-jenis produk yang dihasilkan perusahaan, dan analisa pemakai akhir dari produk.

Dengan menggunakan berbagai cara penaksiran yang berbeda, akan diperoleh angka taksiran yang berbeda pula. Angka-angka taksiran ini tidak dengan sendirinya menjadi angka yang dimuat dalam budget penjualan melainkan merupakan bahan pertimbangan yang masih akan dibahas lebih lanjut dalam panitia budget.

Sebagai ilustrasi, berikut ini diberikan contoh cara penaksiran yang bersifat kuntitatif (metode trend moment dan metode least square), sehingga mendapat gambaran yang lebih jelas:

1. Metode Trend Moment

Metode trend moment menggunakan cara-cara perhitungan statistika dan matematika tertentu untuk mengetahui fungsi garis lurus sebagai pengganti garis patah-patah yang dibentuk oleh data historis perusahaan. Dengan demikian pengaruh unsur-unsur subyektif dapat dihindarkan.

Prinsip-prinsip pengerjaan metode trend moment adalah sebagai berikut:

a)      Barang tahan lama minimal satu tahun.

b)      Barang yang selalu diperlukan, misalnya sembako.

c)      Kegiatan usaha sudah berjalan minimal dua tahun, digunakan sebagai data penjualan tahun yang lalu.

d)     Jumlah data tahun lalu baik tahun ganjil maupun genap tetap diurut dari 0, 1, 2, 3,…..dst pada kolom x.

Rumus metode trend moment:

  1.                                 I.            Y= a + bx
  2.                              II.            ∑ y= n.a + b.∑ x
  3.                           III.             ∑ xy= a. ∑ x + b. ∑ x2

Contoh soal:

Sebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan minuman air gallon ingin membuat forecast penjualan minuman air gallon untuk beberapa tahun mendatang didaerah Singkawang, dengan menggambarkan garis trend data penjualan tahun yang lalu adalah sebagai berikut:

Tahun

Penjualan

Y

2005

2006

2007

2008

2009

130.000

145.000

150.000

165.000

170.000

Hitunglah forecast penjualan dengan metode trend moment!

 

Tahun

x

Penjualan

xy

x2

y

2005

2006

2007

2008

2009

0

1

2

3

4

130.000

145.000

150.000

165.000

170.000

0

145.000

300.000

495.000

680.000

0

1

4

9

16

 =SUM(ABOVE) 10

 =SUM(ABOVE) 760.000

 =SUM(ABOVE) \# “0” 1.620.000

30

 

Jawab :

 

  1. ∑ y= n.a + b.∑ x

760.000= 5a + 10b

  1. ∑ xy= a. ∑ x + b. ∑ x2

1.620.000= 10a + 30b

 

Dibuat persamaan menjadi:

 

760.000= 5a + 10b x 2 1.520.000= 10a + 20b

1.620.000= 10a + 30b x 1 1.620.000= 10a + 30b

-100.000= -10b

  • b = 10.000

760.000= 5a + 10b

760.000= 5a + 10 (10.000)

760.000= 5a + 100.000

660.000= 5a

  • a = 132.000


Y= 132.000 + 10.000x

Maka nilai trend tiap tahun sampai tahun 2011 dapat dihitung sebagai berikut:

2005

Y= 132.000 + 10.000 ( 0 ) =

132.000

2006

Y= 132.000 + 10.000 ( 1 ) =

142.000

2007

Y= 132.000 + 10.000 ( 2 ) =

152.000

2008

Y= 132.000 + 10.000 ( 3 ) =

162.000

2009

Y= 132.000 + 10.000 ( 4 ) =

172.000

2010

Y= 132.000 + 10.000 ( 5 ) =

182.000

2011

Y= 132.000 + 10.000 ( 6 ) =

192.000

=SUM(ABOVE) 1.134.000

 

2. Metode Least Square

Sebenarnya metode trend least square hanyalah merupakan penyederhanaan dari metode trend moment dengan cara mengusahakan sedemikian rupa sehingga jumlah parameter X sama dengan nol ( ∑x = 0 ). Oleh karena ∑x = 0, maka rumus tersebut akan menjadi lebih sederhana, yaitu:

  1.           I.            Y= a + bx
  2.        II.            ∑ y= n.a atau a = ∑ yn
  3.     III.            ∑ xy= b. ∑ x2 atau b = ∑ xy/ ∑ x2

Prinsip penyelesaian dengan metode least square:

a)      Barang tahan lama minimal satu tahun.

b)      Barang yang selalu diperlukan, misalnya sembako.

c)      Kegiatan usaha sudah berjalan minimal dua tahun, digunakan sebagai data penjualan tahun yang lalu.

d)     Jika jumlah data tahun yang lalu adalah ganjil, maka pada kolom x ditengahnya adalah nol (0).

e)      Jika jumlah data tahun yang lalu adalah genap, maka pada kolom x ada dua loncatan dua angka baik keatas maupun kebawah.

Misalnya,

2005

2006

2007

2008

-3

-1

1

3

Contoh soal:

Sebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan minuman air gallon ingin membuat forecast penjualan minuman air gallon untuk beberapa tahun mendatang didaerah Singkawang, dengan menggambarkan garis trend data penjualan tahun yang lalu adalah sebagai berikut:

Tahun

Penjualan

Y

2005

2006

2007

2008

2009

130.000

145.000

150.000

165.000

170.000

  • Hitunglah forecast penjualan dengan metode trend least square!

Jawab:

Tahun

x

Penjualan

xy

x2

y

2005

2006

2007

2008

2009

-2

-1

0

1

2

130.000

145.000

150.000

165.000

170.000

-260.000

-145.000

0

165.000

340.000

4

1

0

1

4

0

 =SUM(ABOVE) 760.000

100.000

10

 

II. ∑ y= n.a atau a = ∑ y/ n

a = 760.000/ 5

a = 152.000

III. ∑ xy= b. ∑ x2 atau b = ∑ xy/ ∑ x2

b = 100.000/ 10

b = 10.000


Y= 152.000 + 10.000x

  • Maka nilai trend tiap tahun sampai tahun 2011 dapat dihitung sebagai berikut:

2005

Y= 152.000 + 10.000 ( -2 ) =

132.000

2006

Y= 152.000 + 10.000 ( -1 ) =

= 760.000

142.000

2007

Y= 152.000 + 10.000 ( 0 ) =

152.000

2008

Y= 152.000 + 10.000 ( 1 ) =

162.000

2009

Y= 152.000 + 10.000 ( 2 ) =

172.000

2010

Y= 152.000 + 10.000 ( 3 ) =

182.000

2011

Y= 152.000 + 10.000 ( 4 ) =

192.000

1.134.000

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s